Bendungan Jenelata juga memiliki fungsi utama sebagai pengendali banjir Sungai Jenelata dengan menurunkan debit banjir dari 1.800 m³/detik menjadi 686 m³/detik. Keberadaan Bendungan Jenelata akan membantu mengoptimalkan pengendalian banjir, khususnya di Kota Makassar yang selama ini hanya mengandalkan Bendungan Bili-Bili berkapasitas 375 juta m3, dengan efektivitas pengendalian banjir hingga 50 tahun ke depan.
Bendungan Bili-Bili yang dibangun sejak tahun 1997 dinilai sudah tidak memadai untuk menampung air sebagai pengendalian banjir ketika curah hujan besar. Oleh karena itu, Bendungan Jenelata dimanfaatkan untuk menahan luapan air Sungai Jenelata yang berhilir ke Sungai Jeneberang, sehingga dapat membantu Bendungan Bili-Bili yang juga membendung hulu Sungai Jeneberang.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang Heriantono Waluyadi mengatakan, Bendungan Jenelata juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sumber Pembangkit Listrik Tenaga Air dengan berkapasitas 7 Mega Watt. Selain itu juga potensi sebagai destinasi wisata berbasis air dan kuliner yang sejalan dengan pengembangan kawasan berbasis ekonomi lokal. “Tercatat hingga 23 Juli 2025, progres konstruksi Bendungan Jenelata telah mencapai 13,9% dan ditargetkan rampung pada tahun 2028,” kata Heriantono.
