“Aturan delapan detik akan mulai diterapkan pada kompetisi musim 2025/26. Kemarin sudah dicoba di Piala Pertiwi dan di level internasional, sudah diterapkan di Kejuaraan Dunia Antarklub,” kata Erick.
Tak hanya itu, PSSI juga menegaskan kelanjutan aturan tahun lalu yang membatasi pemain yang boleh memprotes keputusan wasit hanya kepada kapten tim. Langkah-langkah ini dinilai sebagai bentuk komitmen menciptakan kompetisi yang adil dan aman.
“PSSI berupaya terus memperbaiki sistem kompetisi. Karena transformasi tidak cukup hanya pada teknis permainan, tapi juga perbaikan kapabilitas SDM yang terlibat di dalamnya, menjadi bagian dari menciptakan sepak bola yang adil dan aman,” tegas Erick.
Untuk mendukung hal itu, Erick menyoroti pentingnya program Garuda Academy yang dibentuk sebagai sarana edukasi dan pengembangan human capital.
Tak hanya ditujukan bagi pelatih atau ofisial, Garuda Academy juga terbuka bagi kalangan media untuk memperkuat ekosistem sepak bola nasional yang profesional dan transparan. (bam)
