Oleh Dr. Ahmad Budidarma – Praktisi Pendidikan, Alumni Universitas Negeri Jakarta
IPOL.ID – Delapan dekade kemerdekaan Indonesia menjadi saat yang tepat untuk kembali meneguhkan cita-cita bangsa: mencerdaskan seluruh rakyat tanpa terkecuali, termasuk mereka yang tinggal di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Walaupun banyak kemajuan telah diraih, fakta di lapangan menunjukkan masih adanya jurang kesenjangan pendidikan. Di sejumlah sekolah di wilayah 3T, listrik belum tersedia selama 24 jam. Kondisi ini menghambat proses belajar, terlebih pelatihan guru yang kini umumnya dilakukan secara daring. Guru-guru di daerah terpencil sering menjadi penerima terakhir pelatihan, bahkan terkadang materi yang diperoleh sudah kadaluarsa sebelum sempat diterapkan.
Situasi ini menuntut kebijakan yang realistis dan berpihak pada semua wilayah. Pemerataan pendidikan tidak bisa hanya menyasar kota besar. Peningkatan infrastruktur, penyediaan pelatihan tatap muka, serta model pembelajaran hibrida yang disesuaikan dengan situasi setempat harus diprioritaskan. Tanpa langkah yang terukur, kesenjangan mutu pendidikan akan tetap melebar.
