Dalam konteks global yang penuh ketegangan geopolitik dan krisis iklim, dialog antarbudaya seperti ini membawa pesan perdamaian, martabat manusia, dan empati lintas batas.
Dalam pertemuan nanti, Bunta Inoue dan Nasirun diharapkan bisa memulai kerja sama seni yang menjanjikan. Ada pertukaran karya, kolaborasi pameran lintas negara, serta program residensi untuk seniman muda Indonesia dan Jepang.
Sebagai bagian dari proyek “Inochi・Chikyuu・Mirai (Kehidupan, Bumi, dan Masa Depan)” oleh Yayasan Sakuranesia, kolaborasi ini membuka jalan bagi pertumbuhan ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan.
Seiring dengan semangat “Friend-Ship”, pertemuan ini menyatukan dua jalan spiritualitas, Tata Titi Duduga Peryoga dari Jawa Barat dan Bushido dari Jepang. Keduanya mengajarkan kehormatan, keselarasan, dan cinta tanah air yang kini menjadi bekal untuk menumbuhkan harmoni di tingkat global.
Dalam dunia yang terus berubah dan sering terpolarisasi, seni menjadi bahasa melampaui politik, agama, dan ekonomi. Nantinya, dari pertemuan di Yogyakarta, bahasa itu akan menemukan bentuknya dalam tawa, goresan kuas, dan pelukan hangat dua insan perupa, Bunta dan Nasirun. (Joesvicar Iqbal)

