Dia pun berharap acara IBS 2025 bisa memperkuat daya saing industri nasional dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan mitra internasional.
“Pemerintah terbuka bagi para investor dalam dan luar negeri yang mau investasi di Indonesia. Apabila ada kendala, laporkan pada Kementerian ESDM, pasti kami bantu sampai berproduksi,” tukasnya.
Sementara itu, Ketua IBS 2025 sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Prof Evvy Kartini, mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh 30 negara peserta. Itu membuktikan nyata kemajuan Indonesia dalam proses hilirisasi industri mineral.
“Banyak negara datang ke IBS 2025, mereka ingin tahu Indonesia sudah menjalankan hilirisasi dari nikel menjadi produk turunan seperti MHP. Bahkan menuju prekursor dan katoda material. Pabrik-pabrik seperti Huayu dan ATL memperlihatkan proses ini nyata berlangsung di Indonesia, bukan di luar negeri,” katanya.
Sebagai bagian dari visi Indonesia Maju dan implementasi Asta Cita, khususnya pada poin ke-5 terkait memperkuat hilirisasi dan industrialisasi untuk menambah nilai sumber daya alam, pemerintah mendorong hilirisasi sebagai strategi utama dalam transformasi ekonomi nasional.
