“Kami sudah biasa. Kalau ada yang sakit atau meninggal, kami pikul pakai sarung dan bambu. Itu satu-satunya cara di sini,” ucap Yanto, dikutip pada Sabtu (9/8/2025).
Lanjut Yanto menjelaskan, Blok Empang merupakan kawasan yang dikelilingi empang dan aliran sungai, sehingga akses masuk dan keluar sangat terbatas. Sekitar 40 kepala keluarga di kawasan ini hidup dalam kondisi minim infrastruktur. Tidak ada jalan beton, bahkan sepeda motor pun tidak bisa masuk ke pemukiman mereka.
Satu-satunya akses darat hanya berupa jembatan bambu yang dibangun secara swadaya oleh warga. Ketika air laut pasang dan banjir rob melanda, warga harus menggunakan getek (rakit kayu) untuk menyeberangi genangan air agar tetap bisa beraktivitas.
“Kami sudah terbiasa. Jembatan ini kami buat sendiri, getek juga. Yang penting bisa dipakai sama-sama,” tutur Yanto.
Namun ditengah keterbatasan, semangat gotong royong dan solidaritas warga tetap menjadi kekuatan utama. Saat ada warga yang meninggal, sakit, atau membutuhkan pertolongan, mereka saling bantu tanpa diminta. Bagi warga Blok Empang, tandu dari sarung dan bambu bukan sekadar alat bantu darurat, melainkan simbol kekompakan dan kepedulian antarwarga.(Vinolla)
