Atas penyerapan gula petani yang telah dilakukan sebagaimana tersebut di atas, Petani melalui APTRI menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya.
Disampaikan juga oleh Edy Sukamto, agar pemerintah serius mengawal hilirisasi gula dan tetes sebagai bagian vital program percepatan swasembada gula nasional. Sekjend DPP APTRI juga menyoroti lambannya realisasi serapan oleh ID Food yang membuat pedagang enggan menyerap sisa produksi petani.
“Kesepakatan di Bapanas Jakarta jelas, serapan 83.000 ton tahap pertama oleh ID Food dan pedagang harus tuntas. Setelah itu, sisa produksi berikutnya sepenuhnya diambil pedagang. Jika ID Food tidak segera menuntaskan kuota Rp900 miliar untuk petani tebu di bawah PT SGN dalam pekan ini, maka swasembada hanya akan menjadi mimpi,” tegas Edy Sukamto, melalui keterangan tertulis pada Kamis (18/9).
Selain gula, penderitaan petani juga semakin berat akibat anjloknya harga tetes. Dampak dari pembebasan bea masuk impor molases membuat harga tetes jatuh dari Rp2.700–3.000/kg pada 2024, kini hanya Rp900–1.200/kg. Kondisi ini menekan pendapatan petani secara signifikan.
