Mujiyono juga mengingat, SBY memimpin negeri ini di masa yang tidak sederhana: krisis ekonomi global, konflik di banyak daerah, bencana tsunami, hingga terorisme. “Beliau menghadapi itu dengan gaya kepemimpinan khas. Sebagian menyebutnya lamban, sebagian menilainya hati-hati. Namun beliau percaya bahwa kekuasaan bukan pentas akrobat, melainkan ruang untuk menimbang dan mendengar,” kata Mujiyono.
Di tengah maraknya gaya kepemimpinan instan, lanjut Mujiyono, sikap reflektif SBY menjadi teladan yang langka. “Hampir setiap persoalan besar beliau uraikan dengan argumen konseptual. Itu membuatnya tidak hanya sabar, tapi juga berkelas. Gaya menimbang dan mendengar ala Pak SBY adalah warisan penting bagi bangsa,” ujarnya.
Perayaan HUT Demokrat di Jakarta digelar sederhana dengan tasyakuran dan doa bersama. “Semoga Partai Demokrat terus diberkahi kekuatan untuk berjuang bersama rakyat. Dan semoga Pak SBY senantiasa diberikan kesehatan, umur panjang, serta tetap menjadi panutan bagi bangsa Indonesia. Beliau adalah inspirasi, bapak bangsa, dan teladan bagi generasi penerus,” tukasnya.(sofian)
