Sikap Muallem yang memilih menyejukkan publik lewat momen kecil ini seolah menjadi sindiran manis. Di Aceh sendiri, kendaraan berplat BK sudah sejak lama hilir mudik, bahkan banyak yang mencari nafkah tanpa pernah diganggu. Potret penjual es krim itu hanya salah satu bukti bahwa toleransi warga Aceh sudah berlangsung nyata.
Sebelumnya, Ketua Laskar Panglima Nanggroe, Sulaiman Manaf, juga telah mengingatkan Bobby Nasution agar tidak berlagak preman dalam mengurus persoalan plat kendaraan. “Plat BK di Aceh sangat banyak. Tapi orang Aceh tidak pernah ribut. Jangan arogan,” tegas Sulaiman dalam sebuah rilis pers, Ahad (28/9/2025).
Komentar ini senada dengan reaksi publik di media sosial. Banyak warganet menilai Muallem telah menunjukkan kelas kepemimpinan yang menenangkan, jauh dari sikap reaktif. “Semoga Bobby melihat foto ini. Begini cara pemimpin menghadapi perbedaan, dengan kesejukan, bukan dengan razia,” tulis salah satu akun.
Es krim yang perlahan meleleh di tangan Muallem, bagi sebagian orang, kini bukan sekadar jajanan ringan. Ia berubah menjadi simbol kepemimpinan yang merangkul, bukan menegasi. Di balik kesederhanaan itu, tersirat pesan bahwa rakyat lebih membutuhkan kesejukan, rasa aman, dan kepastian hidup—ketimbang drama politik soal plat kendaraan. (MU)
