Namun, situasi sosial, politik dan keamanan yang belum kondusif membuat panitia menilai perlu adanya penjadwalan ulang. “Kami paham banyak pihak yang kecewa, terutama peserta dan pendamping yang sudah bersiap diri. Tapi kami percaya keputusan ini yang terbaik demi keamanan bersama,” tambah Zayadi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, pihaknya masih berkoordinasi dengan Rabithah ‘Alam Islami dan otoritas terkait lainnya mengenai opsi waktu dan lokasi baru. Kemenag berupaya memastikan ajang internasional ini tetap bisa terlaksana, meski harus bergeser dari jadwal semula.
“Kami ingin menjaga semangat para penghafal Al-Qur’an penyandang disabilitas netra. Inklusivitas dan penghargaan terhadap ketekunan mereka tetap menjadi komitmen utama Kementerian Agama. Semoga dalam waktu dekat, kita bisa menggelar MHQ ini dalam kondisi yang lebih aman dan penuh keberkahan,” pungkas Zayadi. (ahmad)
