Di rumah sederhana itu, pendidikan anak-anak menjadi prioritas. “Banyak tantangan, apalagi ekonomi keluarga kurang mampu. Tapi saya yakin anak saya bisa menyelesaikan kuliahnya,” kata Hasril dengan mantap.
Pesan itu menular ke Armaya. Selama 13 semester, ia menempuh studi Kimia. Ada masa-masa hampir menyerah, tapi dorongan orang tua selalu menjadi suluh.
“Jangan minder, jangan malu, tetaplah berjuang,” nasihat ayahnya ang ia genggam erat.
Buah dari Doa dan Ketekunan
Hari itu, nasihat itu berbuah. Armaya dinyatakan lulus dengan IPK 3,11. Di tengah stigma yang sering membayangi anak-anak difabel, ia memilih bertahan.
“Orangtua saya selalu menanamkan semangat. Walaupun mereka tunanetra, mereka tidak pernah menyerah. Itu membuat saya terus bertahan,” ucap Armaya dengan suara bergetar.
Hasril pun selalu meneguhkan hati anak-anaknya. “Walaupun orang tua cacat tunanetra, kalian harus bisa seperti orang lain. Alhamdulillah, anak-anak saya tidak malu punya orang tua seperti kami,” tutur Hasril.
Cahaya di Balik Gelap

