Trans7 menyadari tayangan tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan keluarga besar pesantren dan masyarakat. Stasiun televisi itu menegaskan bahwa kejadian ini menjadi pembelajaran berharga agar tidak lagi menayangkan pemberitaan mengenai ulama, kiai, atau kehidupan pesantren dalam program yang tidak relevan.
“Kami berkomitmen untuk menghadirkan tayangan yang menampilkan nilai-nilai positif dan keteladanan kehidupan pesantren di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan Pesantren Lirboyo,” tulis pernyataan tersebut.
Dalam penutup suratnya, pihak Trans7 menyebut permintaan maaf ini sebagai bentuk itikad baik untuk menjaga marwah lembaga pendidikan keagamaan di Indonesia. Mereka berharap, insiden ini menjadi pelajaran penting agar kesalahan serupa tidak terulang di masa mendatang.
Surat permohonan maaf itu ditandatangani secara resmi oleh Direktur Produksi Trans7, Andi Chairil, dan Kepala Departemen Programming, Renny Andhita, disertai ucapan terima kasih atas kebesaran hati keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo yang telah menerima klarifikasi tersebut dengan baik.
