Anak-anak yang diduga telah terekrut ini berusia antara 10 hingga 18 tahun dan tersebar dari 23 provinsi di Indonesia.
Dua provinsi dengan jumlah paparan tertinggi adalah Jawa Barat dan DKI Jakarta.
“Tadi totalnya ada 23 provinsi. Tapi bukan berarti provinsi lain aman, karena penyelidikan masih akan terus dilakukan. Provinsi yang di dalamnya paling banyak terpapar adalah Jawa Barat, kemudian Jakarta,” terangnya.
Kelompok radikal memulai pendekatan dengan menyebarkan narasi utopis dan konten pemikat melalui Facebook, Instagram, hingga game online.
“Platform umum ini akan menyebarkan dulu visi-visi utopia yang mungkin bagi anak-anak bisa mewadahi fantasi mereka sehingga mereka tertarik,” ucapnya.
Anak yang tertarik kemudian diarahkan ke grup tertutup untuk menjalani proses indoktrinasi lebih dalam.
“Anak-anak dibikin tertarik dulu, kemudian mengikuti grup, kemudian diarahkan kepada grup yang lebih privat. Di situlah proses-proses indoktrinasi berlangsung,” kata dia.
Densus 88 bekerja sama dengan Kementerian PPPA, KPAI, Kemensos, dan berbagai lembaga lain untuk menangani para anak yang teridentifikasi sebagai korban.
