Ia juga mengapresiasi kinerja kebijakan fiskal dalam satu tahun terakhir. APBN 2025 terbukti mampu menjadi jangkar stabilitas ekonomi sekaligus keberlanjutan fiskal. APBN berhasil mengawal konsolidasi pemerintahan baru dan transisi birokrasi dengan mulus. Selain itu, kebijakan fiskal sukses melakukan efisiensi anggaran sebesar Rp300 triliun dari total Rp3.600 triliun, yang kemudian direkonstruksi untuk membiayai program-program prioritas.
Meskipun performa jangka pendek stabil, Wamenkeu mengingatkan bahwa tujuan jangka panjang Indonesia Emas 2045 untuk menjadi negara maju tetap harus menjadi fokus. Oleh karenanya, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, yaitu 6 hingga 8 persen mencontoh pengalaman negara-negara maju lainnya.
Wamenkeu menggarisbawahi, kunci pencapaian ini terletak pada sektor manufaktur yang berorientasi pada nilai tambah tinggi. “Kita ingin manufaktur yang memproduksi barang produktif, bukan sekadar barang konsumsi, seperti mesin dan peralatan,” tegasnya.
Guna mendukung ambisi pertumbuhan tinggi, Indonesia memiliki mesin ekonomi berupa APBN sebagai kebijakan fiskal, Danantara, dan sektor Keuangan. Menurutnya, kolaborasi strategi antara APBN dan Danantara ini akan menjadi “Indonesian Way” untuk mendorong investasi dan menciptakan iklim usaha yang kondusif. (ahmad)
