Ia menambahkan, dengan lebih dari 229 juta pengguna internet di Indonesia berdasarkan survei APJII 2025, tantangan yang dihadapi kini telah bergeser. “Tantangannya sekarang bukan sekadar akses. Tantangannya adalah memastikan perempuan mampu memanfaatkan teknologi untuk memperkuat usaha, menggerakkan komunitas, dan menciptakan inovasi yang relevan,” tegasnya.
Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Digital tak henti memperluas jangkauan program literasi digital bagi perempuan. Fifi menekankan, “Tidak boleh ada perempuan yang tertinggal dalam transformasi digital. Ruang digital harus menjadi ruang yang aman dan mendukung bagi perempuan untuk berkembang.”
Upaya itu mencakup pelatihan praktis, edukasi keamanan siber, dan penciptaan mekanisme perlindungan khusus untuk mencegah kekerasan berbasis gender online.
Forum tersebut juga menghadirkan perspektif inspiratif dari Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu yang menekankan pentingnya keautentikan dalam kepemimpinan perempuan di era digital. “Perempuan tidak perlu ‘menjadi laki-laki’ untuk memimpin. Kita memimpin dengan karakter, nilai, dan kepekaan yang kita miliki. Kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh visi dan integritas,” ujarnya.
