Diketahui, jumlah negara peserta Borobudur Marathon meningkat dari 26 menjadi 38 negara. Di tahun ini Borobudur Marathon juga naik kelas menjadi Elite Label. Artinya, ajang lari maraton ini telah sejajar dengan event lari bergengsi kelas dunia.
“Dan ini luar biasa, apalagi pesertanya sampai 11.500 pelari. Ini yang memang harus kita bangkitkan di olahraga nasional. Tidak hanya untuk atlet elite, tetapi juga bagaimana olahraga juga bisa menyehatkan masyarakat. Karena olahraga ini salah satu yang bisa preemtive atau mencegah penyakit-penyakit datang,” terang Menpora.
Dari segi ekonomi, terang Menpora Erick, Borobudur Marathon merupakan sport tourism yang memberikan dampak pada pemberdayaan masyarakat sekitar. Diketahui, perputaran uang untuk edisi ini mencapai sekira Rp74 miliar, salah satunya melalui sektor penginapan.
“Ini yang memang ke depan akan Kemenpora terus dukung. Tidak hanya buat atlet elite, tetapi juga untuk memasyarakatkan olahraga, juga mendorong pertumbuhan ekonomi provinsi atau daerah,” urai Menpora.
