Suasana penuh antusias terlihat sejak awal rangkaian pembukaan. Para peserta hadir dari Sabang sampai Merauke, mencerminkan eratnya ikatan emosional sesama perantau. Meski ruang pertemuan tak mampu menampung seluruh pendaftar, jalannya acara tetap berlangsung tertib, khidmat, dan sesuai AD/ART. MUNAS IV membahas laporan pertanggungjawaban pengurus, pemilihan ketua umum baru, penetapan dewan pembina, serta penyegaran AD/ART untuk mempertegas prinsip netralitas politik.
“Anggota boleh punya pilihan politik masing-masing, tetapi pengurus wajib netral. Ini komitmen agar organisasi tetap bersih dan inklusif,” tegas Cak Koko, Ketum yang j salah satu pendiri SC.
Komunitas ini lanjut Cak Koko, juga menunjukkan kontribusi nyata melalui program sosial, hiburan, dan pemberdayaan ekonomi. Banyak anggotanya yang merintis usaha di kawasan Blok M dan Senen, sementara program pelatihan seperti sertifikasi sopir bus dan alat berat digelar untuk membuka kesempatan kerja baru.
Di tingkat internasional, SC telah memiliki cabang resmi di Amsterdam dan Tokyo, bahkan bersiap menjalin kedekatan dengan komunitas “Kampung Surabaya” di Philadelphia. “Di manapun ada arek-arek Suroboyo, kami akan hadir membawa semangat juang dan budaya kota pahlawan,” ujar Cak Koko.
