“Kegiatan ini menjadi menarik karena ada lomba kolaborasi antara guru dan siswa. Lalu,
lomba-lomba yang disuguhkan bukan hanya bersifat kognitif saja namun juga mengembangkan aspek psikomotorik serta afektif siswa,” imbuh Wahyu.

Sedangkan Pengurus Bidang Pendidikan BPK Penabur Jakarta Suzanne Carrol menambahkan, kegiatan seperti ini bisa mematahkan persepsi masyarakat bahwa matematika itu adalah pelajaran yang horor.
“Jadi anggapan masyarakat saat ini itu, ya di zaman saya juga ya, matematika itu horor banget dan menakutkan, panas dingin kalau pelajaran matematika. Tapi matematika itu ternyata tidak demikian, ternyata matematika itu bisa dibawa fun,” terangnya.
“Jadi BPK PENABUR memberikan ruang bagi siswa, juga bagi guru untuk mempelajari matematika itu dengan meaningful dan joyful. Jadi itu tadi ya, kemampuan berpikir kritis dan anak-anak juga ditransformasi cara memandang persoalan, cara memandang masalah. Jadi di sini bukan hanya metodenya, tapi hasil dari kognitif itu sendiri, jadi meta kognitifnya, itu yang kita akan gali di anak-anak kita dan juga guru-guru kita,” lanjutnya. (bam)
