“Acara kemarin cukup meriah dan alhamdulillah berjalan lancar. Memang sempat viral dan mendapat berbagai tanggapan dari netizen. Ada yang menyebut kami primitif, padahal ini adalah tradisi yang sudah lama dilakukan di Gili Iyang,” ujar Alwi.
Ia menambahkan bahwa masyarakat luar kerap salah memahami tradisi itu. Menurut Alwi, prosesi tersebut bukan pernikahan, dan tidak ada konsekuensi hukum maupun sosial yang mengikat anak-anak seperti layaknya pasangan dewasa. Acara itu sepenuhnya merupakan simbol budaya yang diwariskan secara turun-temurun di Gili Iyang.
Acara serupa dalam masyarakat setempat biasa disebut gawe, karje, atau gabay, tergantung konsep yang diusung keluarga. Tahun ini, keluarga memilih konsep besanan agar acara terlihat lebih istimewa.
Alwi berharap masyarakat luas dapat memahami konteks budaya yang mendasari tradisi tersebut dan tidak menilai hanya berdasarkan potongan video yang viral di media sosial. “Ini bagian dari warisan leluhur kami. Kami hanya menjaga budaya yang sudah ada sejak lama,” tutupnya. (Vinolla)
