Di Samudra Hindia, ada Indian Ocean Dipole (IOD) yang menggeser pusat hujan ke barat atau ke timur. Di atas itu semua, ada Madden-Julian Oscillation (MJO) yang bergerak seperti gelombang uap air raksasa lintas benua. Dan pada skala sinoptik, siklon tropis kerap menjadi pemicu lonjakan hujan ekstrem.
Kasus Bali pada September 2025 memberi gambaran konkret. Data menunjukkan suhu muka laut (SST) di perairan Indonesia berada dalam kondisi hangat. SST yang hangat berarti penguapan meningkat dan suplai uap air melimpah.
Pada saat yang sama, IOD berada pada fase negatif kuat (–1,12), yang menandakan pemanasan di Samudra Hindia bagian timur, tepat di dekat Indonesia. Kombinasi ini memperkuat konveksi dan membuka peluang hujan sangat lebat. ENSO sendiri berada dalam kondisi netral, sehingga tidak menahan maupun memperkuat hujan secara signifikan.
Hasilnya adalah curah hujan ekstrem, dengan catatan mencapai hampir 390 mm per hari di Kabupaten Badung, angka yang jauh melampaui ambang hujan sangat lebat menurut BMKG.
