Surat suspensi itu kemudian memicu reaksi berantai. PP KBI memanggil Rosi untuk meminta klarifikasi. Ia mengaku langsung menjawab semua poin yang menyeret namanya serta mengirim surat pribadi kepada Presiden Wako Asia untuk menjelaskan posisinya dan meminta maaf bila ada kekurangan.
Namun, setelah surat itu dikirim, badai bukannya mereda. Justru tekanan semakin besar, hingga puncaknya deportasi terhadap dirinya saat mendampingi atlet di Sea Games Thailand beberapa hari lalu.
Dalam keterangannya, Rosi menegaskan bahwa tuduhan itu tidak hanya kejam, tetapi juga merusak moral dan integritasnya—baik sebagai pengurus olahraga maupun sebagai seorang ibu yang mendampingi atlet muda berjuang membawa nama bangsa.
“Ini kejam… kemana saya harus berlindung,” ujarnya.
Ia juga mengaku kecewa karena tak mendapat perlindungan dari lembaga olahraga Indonesia ketika menghadapi tekanan dari federasi luar.
“Ketika saya laporkan ke Ketum PP KBI, jawabannya hanya, ‘Saya sedih mendengar ini.’ Harusnya ada perlindungan. Saya ini wakil presiden, masih berjuang membersihkan nama saya. Masa seorang wanita yang menjaga mental atlet malah dibiarkan sendiri?”
