Tidak hanya dipasang di rumah-rumah warga, bendera putih juga berkibar di sejumlah kantor pemerintahan daerah, termasuk di Gedung Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, serta di fasilitas umum seperti masjid. Sejumlah relawan menyebutkan kondisi lapangan sudah sangat memprihatinkan, dengan korban jiwa terus bertambah dan kebutuhan dasar yang belum terpenuhi secara merata.
Pengibaran bendera putih ini juga menjadi bentuk protes keras terhadap respons pemerintah pusat yang dinilai lamban dalam menangani bencana. Aksi tersebut bertepatan dengan desakan berbagai elemen masyarakat sipil Aceh agar pemerintah menetapkan status bencana nasional.
Juru Bicara Gerakan Rakyat Aceh Bersatu, Masri, menyatakan seluruh elemen masyarakat sipil akan bersatu dan turun ke jalan jika tuntutan tersebut tidak segera direspons. Aksi direncanakan berlangsung serentak di sejumlah daerah, mulai dari Langsa, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Lhokseumawe, hingga kabupaten lainnya.
Penetapan status bencana nasional dinilai krusial untuk memastikan penanganan darurat yang lebih terpadu dan maksimal. Masyarakat berharap adanya tambahan bantuan logistik, tenaga medis, alat berat, serta kebutuhan vital lainnya, mengingat kemampuan pemerintah daerah dinilai tidak mencukupi.

