Sejarah mencatat, Doraemon pernah hadir di TVRI pada 1979–1989. Namun ikatannya dengan RCTI jauh lebih lekat. Sejak Desember 1990, Doraemon menjadi ikon tayangan wajib keluarga, terutama di akhir pekan. Kehadirannya begitu konsisten hingga nyaris terasa abadi.
Kini, absennya kartun ini menjadi anomali besar. Bukan hanya karena rating atau jadwal, tapi karena ia adalah bagian dari memori kolektif. Sesuatu yang terasa “selalu ada”, sampai akhirnya tidak.
Hingga berita ini ditulis, pihak stasiun televisi belum memberikan pernyataan resmi. Namun, sejumlah analisis mencuat terkait alasan di balik hilangnya Doraemon dari layar kaca.
Pertama, adanya perubahan strategi program di mana stasiun TV mungkin melakukan evaluasi rating. Dan memprioritaskan acara lain yang lebih relevan dengan audiens saat ini.
Kedua, faktor pergeseran pola konsumsi anak-anak yang kini lebih memilih menonton konten animasi melalui platform digital atau streaming ketimbang televisi konvensional.
Faktor ketiga yang paling santer terdengar adalah masalah hak siar dan lisensi. Indikasi ini terlihat dari beberapa film layar lebar Doraemon yang belakangan justru ditayangkan oleh stasiun televisi kompetitor.
