Dikatakannya, tentunya pertemuan itu sangat signifikan dan relevan karena bencana hidrometeorologi melanda saat ini dengan berbagai persoalan berskala global bahwa pemanasan air laut meningkat empat kali lipat, artinya suhunya akan lebih meningkat.
“Peningkatan suhu 1 drajat saja akan mempengaruhi biota laut misalnya beberapa spesies kalau tidak toleran terhadap suhu maka akan dominan pada jantan dan atau betinanya. Misalnya penyu”.
Pertemuan yang menyinggung, 1,8 miliar penduduk dunia terpapar risiko banjir disini. Lalu akan kehilangan sumber air tawar hampir 75 persen dan nilai dari ekosistem perairan ini juga sangat besar mencapai 58 triliun US Dollar, tetapi investasinya hanya baru 2-3 persen.
“Sehingga harus lebih banyak fokus pada perairan”.
Ada tiga pilar disini, pertama bagaimana pengelolaan air tawar dan aksesnya, terkait dengan pendanaan dan inovasi untuk air tersebut. Tak kalah penting soal keamanan pangan biru, pangan masa depan adalah pangan biru.
“Bisa saja dengan perpaduan AI dan menemukan spesies penting bisa jadi pola pangan dan makan menjadi berubah nantinya,” tukasnya.
