“Secara permainan, di game pertama saya rasa imbang. Cuma memang di golden point atau di poin akhir saya melakukan kesalahan yang memang seharusnya tidak dilakukan. Harusnya dapat poin, malah berbalik. Untuk di game kedua, mereka bermain sangat-sangat baik. Mulai dari pukulan satu-duanya dan pukulan depannya, sementara kami terus membuang poin,” lanjut Joaquin.
Raymond/Joaquin beberapa kali terlibat psy war dengan lawan-lawan mereka, tak terkecuali senior sendiri, Fajar Alfian/M. Shohibul Fikri. Menanggapi hal ini, mereka mengatakan bahwa hal ini hanya untuk menambah rasa percara diri mereka saja.
“Dari awal tahun semenjak dipasangkan oleh mas Chafidz (Yusuf), Beliau memang juga menyampaikan bahwa kalau mau tengil, tengil aja. Karena dengan tengil itu kan bisa menambah confident kami, bisa keluar semua permainan kami. Tapi tidak boleh berlebihan, sewajarnya saja,” kata Joaquin.
Indonesia meraih satu gelar di turnamen berhadiah total 500 ribu Dollar AS ini. Alwi Farhan keluar sebagai juara setelah menang telak atas wakil Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul, dengan skor 21-5, 21-6, dalam waktu 25 menit. (ahmad)
