Melansir berbagai sumber, grooming merupakan pola perilaku terencana untuk membangun kepercayaan korban sebelum melakukan eksploitasi. Pelaku biasanya memulai dengan pendekatan positif, membuat korban merasa spesial, dipahami, dan dibutuhkan.
Tahap berikutnya sering kali lebih berbahaya. Korban perlahan dijauhkan dari lingkungan terdekat, seperti keluarga dan teman. Isolasi emosional ini membuat korban semakin bergantung dan sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Para ahli menyebut grooming tidak selalu bermuatan seksual di awal. Manipulasi psikologis justru menjadi fondasi utama. Banyak korban baru menyadari apa yang mereka alami setelah dampaknya terasa dalam jangka panjang.
Pengalaman yang dituliskan Aurelie dalam Broken Strings mencerminkan pola tersebut secara nyata. Ia menunjukkan bagaimana kejahatan yang tampak “halus” dapat meninggalkan luka psikologis yang dalam dan sulit disembuhkan.
Lewat buku ini, Aurelie berharap pengakuannya bisa membuka mata banyak orang. Ia ingin publik memahami bahwa grooming adalah kejahatan yang sering tersembunyi, sulit dikenali, namun dampaknya sangat merusak.
