Dalam narasinya, Kunsurya menceritakan, pada saat itu adiknya sedang duduk menunggu pembeli dagangannya dan didatangi oleh dua orang mengaku sebagai pemegang wilayah alias preman kampung.
Kemudian, dua preman itu meminta uang jatah sebesar Rp 20.000, dan adiknya menolak memberikan uang dengan alasan belum ada pembeli.
“Adik saya berjualan di lokasi tersebut tidak pernah seharian full, hanya dari jam 06.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB. Tapi kedua preman itu memintain jatah disana secara rata, seperti orang lain yang jualan seharian full,” ujarnya.
Kunsurya menjelaskan, adiknya menolak memberi uang full dan hanya ingin membayar setengah dari yang diminta yaitu Rp 10.000.
Preman tersebut, lanjut dia, menolak uang pemberian adiknya dan melempar plastik teh yang sedang diminumnya ke wajah adiknya. Tidak terima dengan hal itu, adiknya sempat melakukan perlawanan dengan adu bacot dan tiba-tiba dikeroyok oleh preman tersebut.
“Salah satu adik saya mengalami luka dihidung berdarah, bahkan salah satu dari premen (pria tua ubanan) mencabut pisaunya dan mencoba menusuk adik saya yang sudah berlumur darah hidungnya, beruntungnya adik saya dapat menangkis pisau, alhasil tangan adik saya bengkak, dan ada bukti visum serta rontgen tangannya,” bebernya.
