IPOL.ID – Suara merdu Muhammad Arghan Lestaluhu mampu membuat haru dan kagum para Juri. Penampilan memukau siswa SLB Negeri Nunukan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, itu berhasil mengantarnya meraih medali emas cabang ajang Menyanyi Solo SDLB Festival Lomba Seni dan Siswa Nasional (FLS3N) Pendidikan Khusus (Diksus) 2025. Ia membuktikan bahwa seni menjadi bahasa yang paling jujur untuk menyampaikan dirinya kepada dunia.
Membawakan lagu berjudul “Komang” karya Raim Laode dan “Mungkin Hari Ini Esok Atau Nanti” karya Anneth, Arghan, meraih medali emas bukan dalam waktu yang singkat. Ia tertarik di dunia tarik suara sejak umur tujuh tahun. Meskipun menyandang disabilitas tunanetra ia aktif beraktivitas dan percaya diri mencoba hal-hal baru.
“Arghan suka menyanyi sejak umur tujuh tahun. Arghan saat itu suka mendengar orang menyanyi karena suaranya merdu. Akhirnya, belajar setiap hari hingga bisa berprestasi. Alhamdulillah,” ungkapnya.
Kegagalan pun sempat dialami Arghan. Ia mengikuti Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2023 (dulu disebut FLS2N, pada 2025 dikembangkan menjadi FLS3N) dan meraih Juara II tingkat Provinsi, sehingga langkahnya harus terhenti di tingkat tersebut. Pada tahun berikutnya, Arghan kembali menunjukkan kemampuan terbaiknya dengan menjadi finalis FLS2N 2024. Tak patah semangat, ia kembali mencoba peruntungannya pada FLS3N 2025 yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Dengan konsistensi tinggi serta dukungan sekolah dan keluarga, Arghan akhirnya berhasil melaju hingga tingkat nasional dan meraih medali emas.
Ketika namanya diumumkan sebagai peraih medali emas, Arghan tersenyum pelan. Senyum itu bukan hanya penanda kemenangan, melainkan juga penanda perjalanan panjang seorang murid pendidikan khusus yang menemukan ruang aman untuk bertumbuh melalui seni.
“Saya hampir setiap hari latihan. Senang sekali rasanya bisa dapat medali emas,” ungkap Arghan.
Prestasi Arghan menunjukkan bahwa semua Murid dapat berprestasi sesuai bakat dan minat dengan tidak membedakan latar belakang, kondisi, karakteristik, dan status. Ketika kesempatan diberikan secara setara, potensi akan menemukan jalannya.
Kisah Arghan juga menjadi pengingat bahwa pendidikan inklusif tidak berhenti pada akses, tetapi berlanjut pada pengakuan. Bagi Arghan, harapan itu hadir melalui seni yang tenang, jujur, dan penuh makna.
Lebih jauh, Arghan juga mengutarakan bahwa ia memiliki beragam cita-cita. “Arghan ingin jadi dokter, insinyur elektro, penyanyi, hafiz Al-Quran, dan masih banyak cita-cita yang Arghan impikan,” sebutnya.
Di akhir kisahnya, Arghan berpesan kepada Sobat Prestasi untuk terus berani berkarya dengan berbagai cara yang dimiliki. “Terus belajar dan jangan pantang menyerah. Arghan pun mampu membuktikannya dengan seni, teman-teman harus membuktikannya dengan minat yang disukai,” tutur Arghan. (ahmad)
