Kerugian tersebut menambah daftar panjang dampak ekonomi banjir yang kerap luput dari sorotan. Bagi pekerja lapangan seperti Aris, tak ada jaring pengaman saat cuaca ekstrem datang. Risiko keterlambatan, kerusakan barang, hingga pemotongan upah harus ditanggung sendiri, meski penyebabnya berada di luar kendali mereka.
Dalam kondisi jalan terendam, memutar arah justru berisiko memperpanjang waktu tempuh dan memperparah kerusakan muatan. Menunggu air surut menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia.
“Kalau banjir begini, kami cuma bisa berharap cepat surut,” katanya.
Aris berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat menangani persoalan banjir secara lebih cepat dan efektif. Menurutnya, dampak banjir tidak berhenti pada kemacetan dan aktivitas warga semata, tetapi juga langsung menyentuh dapur para pekerja kecil yang menggantungkan hidup pada kelancaran distribusi.
“Bukan cuma pengguna jalan yang rugi. Kami yang kerja di lapangan juga kena dampaknya langsung,” ujarnya.
Sementara itu, hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Senin menyebabkan sejumlah ruas jalan tergenang banjir. Hingga pukul 17.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat sedikitnya 39 ruas jalan masih terendam, dengan ketinggian air yang bervariasi.
