IPOL.ID- Banjir yang melanda Jakarta pada Senin (12/1/2026) tak sekadar menyebabkan kemacetan panjang. Di balik genangan air, aktivitas distribusi terhenti dan penghasilan pekerja lapangan terpangkas, memperlihatkan sisi lain dampak ekonomi banjir yang jarang disorot.
Kondisi itu dirasakan langsung Aris, seorang sopir pengantar batu es di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Perjalanan rutinnya yang biasanya dapat ditempuh tanpa kendala berubah menjadi ujian panjang saat banjir memaksa kendaraannya terhenti hampir satu jam di tengah kepadatan lalu lintas.
Di dalam boks mobil, puluhan kilogram batu es yang seharusnya tiba dalam kondisi utuh perlahan mencair. Keterlambatan pengiriman pun tak terhindarkan.
“Sekitar 20 kilogram es batu mencair,” ujar Aris lirih, Selasa (13/1/2026).
Bagi Aris, banjir bukan sekadar soal waktu yang terbuang di jalan. Es batu yang rusak akibat keterlambatan dihitung sebagai kerugian pribadi dan berujung pada pemotongan gaji. Setiap kantong es yang mencair dihargai Rp17.000 angka yang mungkin tampak kecil, namun sangat berarti bagi penghasilan harian seorang sopir distribusi.
