Pada hari yang sama, Gedung Putih sempat menyatakan bahwa Trump “memiliki ketertarikan” untuk menjajaki jalur diplomasi dengan Teheran. Meski demikian, unggahan Trump sehari kemudian mengindikasikan bahwa upaya tersebut telah dihentikan.
Pemerintah Iran merespons cepat pernyataan tersebut. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung Iran, Ali Larijani, melalui platform X, balik menuding Trump dan sekutunya sebagai dalang di balik pertumpahan darah di Iran.
“Kami umumkan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1- Trump, 2- Netanyahu,” tulis Larijani, merujuk pada Perdana Menteri Israel.
Pejabat Teheran bersikeras bahwa aksi protes yang meluas di negaranya adalah bentuk “kerusuhan” dan “terorisme” yang didukung oleh kekuatan asing.
Hingga saat ini, pemerintah Iran belum merilis angka resmi mengenai jumlah korban. Namun, lembaga hak asasi manusia yang berbasis di AS, Human Rights Activists News Agency (HRANA), memperkirakan jumlah korban tewas telah melampaui 2.000 jiwa. Angka tersebut mencakup pengunjuk rasa dan aparat keamanan. (far)

