Pakar geologi dari Universitas Syiah Kuala (USK) menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah sinkhole klasik, melainkan lebih terkait pergerakan tanah dan longsoran pada material vulkanik yang rapuh di wilayah tersebut. “Itu bukan bagian dari sinkhole… material pasir itu hakikatnya hasil letusan gunung api yang belum padat, daya ikatnya lemah dan mudah runtuh,” ujar Profesor Nazli Ismail, yang juga ahli geofisika.
Upaya mitigasi terus dilakukan. Kementerian Pekerjaan Umum telah menurunkan tim teknis untuk kajian lebih dalam, sementara PLN telah menyelesaikan relokasi jaringan listrik tegangan tinggi sejauh 150 meter dari lokasi amblesan untuk mengantisipasi kerusakan infrastruktur.
Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga mengimbau perlunya kajian ahli dan tindakan cepat agar fenomena ini tidak semakin melebar dan mengancam permukiman warga. “Setiap hari memang semakin bergeser ini, maka harus ada kajian atau tenaga ahli yang mengkaji, sebab lubang ini semakin luas,” katanya.
Fenomena yang telah berlangsung bertahun-tahun ini menunjukkan bagaimana pergerakan tanah dan kondisi geologi lokal dapat memicu dampak signifikan pada kehidupan masyarakat di Aceh Tengah. Kondisi terkini masih memerlukan pemantauan intensif dan tanggapan cepat dari pihak berwenang. (tim)

