IPOL.ID – Ratusan naskah kuno Aceh yang terdampak banjir pada 2025 mulai diselamatkan dari ancaman kerusakan permanen melalui program restorasi yang dilakukan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) bersama UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan didukung Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Komisariat Aceh.
Sebanyak 130 manuskrip milik masyarakat dari Pidie Jaya dan Aceh Utara menjalani proses preservasi dan restorasi di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh pada 19 hingga 23 Mei 2026 dengan melibatkan lima konservator dari PNRI Jakarta.
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman, meninjau langsung proses restorasi manuskrip kuno tersebut, Kamis (21/5/2026). Menurutnya, manuskrip Aceh bukan sekadar dokumen lama, tetapi juga jejak penting sejarah, intelektual, dan peradaban Islam di Nusantara.
“Manuskrip Aceh memiliki nilai sejarah dan peradaban yang sangat tinggi. Karena itu, upaya preservasi harus dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Mujiburrahman.
Ia menjelaskan, upaya penyelamatan manuskrip di Aceh telah berlangsung sejak masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami Aceh melalui kerja sama dengan berbagai lembaga internasional, seperti Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Universitas Leipzig Jerman, Pemerintah Aceh, serta Pusat Kajian Pendidikan dan Masyarakat (PKPM) Aceh.
