Menurutnya, selain restorasi dan preservasi, UIN Ar-Raniry juga menargetkan pembangunan basis data manuskrip Aceh sebagai pusat kajian naskah kuno Aceh dan Nusantara.
“Kampus siap membangun database manuskrip sebagai pusat kajian naskah kuno Aceh dan Nusantara,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Konservasi Perpustakaan Nasional RI, Imam Supangat, mengatakan proses konservasi diawali dengan identifikasi tingkat kerusakan manuskrip sebelum dilakukan penanganan lebih lanjut.
“Manuskrip dipilah berdasarkan tingkat kerusakan dan metode perbaikannya. Setelah itu dilakukan pendataan dan treatment konservasi sesuai kondisi masing-masing naskah,” ujar Imam.
Ia menyebutkan sebagian manuskrip mengalami kerusakan akibat tingkat kelembapan tinggi yang memicu pertumbuhan jamur serta membuat lembaran naskah saling menempel.
“Manuskrip terlebih dahulu dikeringkan melalui ruang pengeringan atau chamber,” katanya.
Menurut Imam, proses restorasi dilakukan secara bertahap mulai dari penanganan lembaran yang rusak, penambalan bagian berlubang, hingga penetralan kadar asam pada kertas manuskrip.
