Nah, dengan data tersebut menunjukkan warga yang sebenarnya mampu justru terlindungi oleh program bantuan, sementara kelompok rentan harus menunggu haknya. Kondisi tersebut mencerminkan data desil yang dimiliki Kemensos belum sempurna.
“Kita masih perlu melakukan kroscek lebih luas lagi. Karena di tahun 2025 itu, kami hanya mampu mengkroscek hanya 12 juta KK lebih, padahal seharusnya lebih dari 35 juta KK,” kata dia.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Kemensos menggandeng pemerintah daerah guna melakukan verifikasi dan validasi cepat di tingkat akar rumput.
“Maka itulah kita kemudian kerja sama dengan daerah untuk melakukan verifikasi dan validasi cepat. Tetapi saya rasa itu masih belum cukup, dan seharusnya harus ada lagi suatu upaya yang lebih nyata sehingga data kita makin tahun makin akurat,” ujarnya.
Gus Ipul menambahkan, terdapat pengalihan kepesertaan secara bertahap sejak Mei 2025 hingga Januari 2026. Upaya tersebut diklaim berhasil menurunkan angka kesalahan sasaran, baik exclusion error maupun inclusion error, secara signifikan.
