Dalam konteks proyek ini, BRIN bertindak sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK). Nugroho mengatakan skema KPBU yang digunakan adalah DBOFMT (Design, Build, Finance, Operate, Maintain, Transfer) untuk kapal baru, serta skema Finance, Operate, Maintain (FOM) untuk dua kapal PHLN. “Secara total, proyek ini akan mengelola tiga kapal riset dengan target 900 hari layar per tahun, masing-masing 300 hari layar per kapal,” ucapnya.
Kapal riset samudera yang akan dibangun melalui KPBU dirancang sebagai kapal multi-purpose berstandar internasional dengan kemampuan jelajah hingga 6.000 mil laut dan endurance sekitar 45 hari. Kapal sepanjang ±75 meter ini akan mampu mengakomodasi 25 peneliti dan 12 awak kapal.
Kapal dilengkapi sistem propulsi senyap (silent propulsion) guna meminimalkan gangguan terhadap biota laut, serta berbagai instrumen riset terpasang (mounted) dan portabel seperti multi-beam echo sounder, gravimeter, CTD, ADCP, serta remote tele-operating vehicle (ROV). Peralatan portabel dirancang agar dapat dipindahkan antar kapal guna mencegah duplikasi investasi dan meningkatkan efisiensi pengadaan.

