Menurut Sigit, di tahun 2025 sampai Januari 2026, tempat tinggalnya lebih dari 20 kali mengalami banjir. Lalu, pada 30 Januari 2026 lalu, banjir di rumahnya mencapai sekitar dua meter lebih. Namun, dia bersama keluarga memilih bertahan di lantai dua rumahnya.
“Ya kalau saya dapat ganti rugi sih maunya pindah, sudah lelah juga puluhan tahun mengalami banjir,” terangnya.
Dia pun mendukung upaya Pemprov DKI membebaskan lahan warga di bantaran kali dengan harapan banjir bisa ditanggulangi.
Lebih lanjut, dia belum tahu rencana Pemprov DKI usai bebaskan puluhan rumah di sana, apakah bakal dibuat tanggul atau jalan kecil.
“Penggusuran dilakukan secara bertahap, kalau sudah dipasang stiker pembebasan lahan baru dieksekusi bongkar,” tutupnya. (Joesvicar Iqbal)
