Meski nyaris berhadapan langsung dengan senjata tajam, Tri mengaku tidak gentar. Baginya, persoalan utama bukan ancaman fisik, melainkan persoalan penegakan aturan yang kerap diabaikan.
“Penertiban ini bukan tiba-tiba. Sudah ada imbauan sebelumnya dan saya minta petugas bertindak secara persuasif,” ujar Tri saat dikonfirmasi.
Ia menilai kemarahan yang muncul saat penertiban adalah dampak dari pembiaran pelanggaran yang berlangsung terlalu lama.
“Saya tidak khawatir dengan goloknya. Yang lebih saya khawatirkan adalah ketika pelanggaran dibiarkan bertahun-tahun, akhirnya orang merasa dirinya paling benar dan menolak ditertibkan,” kata Tri.
Menurutnya, akumulasi pembiaran itulah yang sering berubah menjadi ledakan emosi ketika aparat akhirnya bertindak.
“Kalau aturan ditegakkan sejak awal, kemarahan seperti ini tidak akan terjadi,” pungkasnya.(Vinolla)
