“Jadi MBG bukan sekadar memperbaiki gizi anak-anak tapi juga menjaga ketahanan bangsa,” ujar Natsir.
Tidak hanya itu, dirinya menilai dampak program MBG justru mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah dengan sangat luar biasa. Banyak sektor ekonomi yang tumbuh karena program tersebut.
“Seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT), bahan MBG diambil dari hasil pertanian warga. Sehingga petani juga merasakan dampak positif dari MBG ini,” tukasnya.
Pun demikian, Natsir mengaku masih ada sejumlah kekurangan dalam pelaksanaan MBG. Hal ini cukup dimaklumi, karena program ini baru dijalankan selama kurang lebih satu tahun.
“Jadi jangan dibandingkan dengan negara maju yang sudah melakukan (MBG) puluhan tahun. Kita ini masih bisa dibilang baru seumur jagung,” ujarnya.
Menurut Natsir, memang perlu adanya evaluasi dalam pelaksanaan program MBG, hal ini untuk meminimalisir peristiwa yang tidak diinginkan. Salah satunya dengan cara memperketat pengawasan pelaksanaan MBG.
Pasalnya, ditemukan kasus keracunan makanan di beberapa daerah yang memerlukan perbaikan sistem pengawasan dan kualitas.
