Viona mengaku keputusan untuk berbicara seperti ini bukanlah hal mudah. Pada awalnya dia merasa malu dan tidak memiliki keberanian untuk membuka diri sebagai korban. Karena itu, dia memilih melaporkan kejadian tersebut secara internal terlebih dahulu.
“Jujur awalnya saya malu dan tidak punya keberanian. Makanya saya hanya lapor secara internal (federasi) saja secara prosedur,” katanya.
Dalam proses pelaporan ke Kepolisian, Viona mengaku menjalani semuanya sendirian tanpa pendamping kuasa hukum. Viona mengatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk menjaga harga diri dan memperjuangkan keadilan.
Lebih lanjut, Viona berharap pengalamannya dapat menjadi pelajaran bagi atlet perempuan lainnya untuk berani menjaga diri dan tidak ragu melapor jika mengalami hal serupa.
“Saya minta tolong kepada atlet perempuan untuk jaga diri masing-masing. Jangan ragu untuk melapor. Mungkin kejadian seperti ini banyak, tapi jarang yang tidak mau bicara,” kata Viona.
Viona juga menegaskan bahwa prestasi dalam olahraga tidak boleh dibayar dengan mengorbankan harga diri dan martabat. “Jangan pernah menukar prestasi dengan harga diri dan martabat kalian,” pungkasnya. (bam)
