Pramono menyampaikan, arsitektur Masjid Darul Jannah terlihat indah dan megah sehingga diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi para jamaah yang beribadah di dalamnya.
“Saya mengagumi arsitektur masjid ini. Tanda tangan saya akan ada di masjid ini sampai kapan pun, dan itu sebuah kehormatan. Saya harap masjid ini dapat dirawat sebaik-baiknya serta benar-benar jadi rumah bagi siapa pun yang ingin memuliakan dan memakmurkannya,” katanya.
Pramono menilai keberadaan Masjid Darul Jannah tidak hanya menjadi simbol selesainya pembangunan fisik, tetapi juga diharapkan menjadi pusat kegiatan umat.
“Peresmian Masjid Darul Jannah bukan hanya menandai selesainya pembangunan fisik, tapi juga hadirnya pusat aktivitas umat sebagai tempat ibadah, silaturahmi, pembelajaran, dan pembinaan masyarakat,” tuturnya.
Masjid Darul Jannah sejatinya kini berdiri terpisah dari bangunan utama Kantor Wali Kota Jakarta Selatan, sehingga memberikan akses lebih luas bagi masyarakat.
Menurut dia, kondisi ini memudahkan warga sekitar maupun para musafir untuk beribadah, terutama dalam menghidupkan berbagai kegiatan selama Ramadan seperti salat tarawih, tadarus, kajian, hingga buka puasa bersama.
