Di sisi lain, Iran membalas dengan meluncurkan serangan drone ke terminal minyak Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun Fujairah berada di luar Selat Hormuz, terminal ini merupakan jalur ekspor krusial bagi 1 juta barel minyak mentah Murban per hari.
Analis dari SEB, Erik Meyersson, menilai AS tengah mempertimbangkan opsi darat berisiko tinggi, termasuk rencana penguasaan fasilitas nuklir dan pendudukan Iran selatan untuk mengamankan jalur pelayaran.
“Semua opsi itu mengindikasikan eskalasi signifikan dan membutuhkan toleransi terhadap risiko yang jauh lebih besar,” ujar Meyersson dikutip Reuters.
Hingga saat ini, harapan gencatan senjata masih nihil. Trump bersikeras menolak negosiasi diplomatik, sementara Iran menegaskan tidak akan menghentikan perlawanan sebelum AS dan Israel menyetop agresi mereka.
“Ketika konflik memasuki pekan ketiga, tidak adanya akhir yang jelas membuat pasar global semakin khawatir terhadap spiral eskalasi yang tak terkendali,” jelas Meyersson.
Menanggapi gejolak pasar, International Energy Agency (IEA) mengumumkan akan melepas lebih dari 400 juta barel cadangan minyak darurat ke pasar global. Ini merupakan pelepasan stok terbesar dalam sejarah lembaga tersebut sebagai upaya menekan lonjakan harga.
