Ia menuturkan, keberagaman latar belakang masyarakat terlihat jelas dalam perayaan tersebut. Warga dari berbagai keturunan seperti Tionghoa, Melayu, maupun suku lainnya berbaur dalam suasana yang harmonis. Momentum perayaan Imlek dan Cap Go Meh tersebut menjadi gambaran nyata kehidupan masyarakat yang saling menghormati. “Semuanya melting pot, bercampur baur di sini,” jelasnya.
Mendagri mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan satu kelompok etnis atau agama. Ia mengapresiasi keterlibatan masyarakat lintas agama dalam kepanitiaan maupun dukungan terhadap rangkaian acara. Menurutnya, semangat saling menghargai yang ditunjukkan masyarakat Singkawang sejalan dengan praktik toleransi di berbagai momentum keagamaan lain di Indonesia.
“Saya berharap acara seperti ini dan suasana yang penuh toleran di Singkawang ini benar-benar menggambarkan prinsip Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu Indonesia,” pungkasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mendagri menyaksikan langsung berbagai penampilan karnaval yang menampilkan ragam ekspresi budaya masyarakat setempat. Kegiatan tersebut berlangsung semarak dan memperlihatkan kekayaan tradisi serta keberagaman etnis di Kota Singkawang, Kalbar. Atraksi budaya yang ditampilkan dalam rangkaian Cap Go Meh menggambarkan perpaduan budaya Tionghoa, Melayu, dan Dayak yang hidup berdampingan secara harmonis.
