Nama Mojtaba bukan sosok baru dalam lanskap politik Iran. Ia mulai mendapat perhatian luas saat krisis pemilu 2009, ketika kemenangan petahana garis keras Mahmoud Ahmadinejad atas kandidat reformis Mir Hossein Mousavi memicu gelombang protes nasional.
Sejumlah analis menilai Mojtaba berperan penting di balik respons negara terhadap kerusuhan tersebut. Walau tidak pernah memegang jabatan formal dalam pemerintahan, pengaruhnya disebut terus menguat melalui jejaring di institusi intelijen dan lembaga negara utama.
Karakter Mojtaba dikenal tertutup dan jarang tampil di ruang publik. Namun, sumber-sumber politik di Teheran menyebut orang-orang dekatnya menempati posisi strategis, memperkuat otoritas informalnya dalam struktur kekuasaan.
Posisi Pemimpin Tertinggi atau dikenal Rahbar merupakan puncak hierarki politik dan keagamaan Iran. Jabatan ini mengendalikan militer, peradilan, serta memegang otoritas atas kebijakan strategis dalam dan luar negeri. Rahbar juga bertindak sebagai Panglima Tertinggi angkatan bersenjata.
