“Ini juga menunjukkan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global yang sangat penuh dengan ketidakpastian,” jelas Wamenkeu Juda.
Minat investor asing terhadap SBN juga tetap terjaga. Bid to cover ratio investor asing untuk SUN tercatat sebesar 2,4 kali, sedangkan untuk SBSN mencapai 2,8 kali. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun lalu. Pemerintah juga melakukan penerbitan SBN di pasar global pada Februari lalu melalui penerbitan obligasi dalam dua mata uang, yaitu renminbi (CNH) dan euro.
Di sisi lain, perkembangan pasar SBN masih dipengaruhi oleh dinamika global yang cukup volatile. Secara year-to-date, imbal hasil SBN tercatat meningkat sekitar 55 basis poin, yang turut mendorong pelebaran spread yield SBN terhadap US Treasury. Per 6 Maret 2026, spread SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury tercatat sekitar 243 basis poin sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kondisi pasar global.
“Posisi spread Indonesia masih berada pada level yang kompetitif. Pemerintah bersama BI, OJK, dan pihak terkait akan terus memantau perkembangan tersebut untuk memastikan stabilitas pasar keuangan domestik,” pungkas Wamenkeu Juda. (ahmad)
