Menanggapi kritik yang ramai bermunculan, pemilik praktik memberikan klarifikasi. Ia mengklaim bahwa teknik “totok sirih” memiliki manfaat bagi anak, salah satunya membantu balita tidur lebih nyenyak dan tidak rewel di malam hari.
Namun, pernyataan tersebut justru menuai perdebatan lebih luas. Sejumlah warganet berpendapat bahwa kondisi anak yang tertidur setelah terapi bukan disebabkan efek relaksasi, melainkan kelelahan akibat menangis dan menahan rasa sakit.
Tenaga kesehatan dan orang tua pun ikut menyuarakan kekhawatiran. Mereka menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan berbagai risiko, mengingat kondisi fisik balita yang masih sangat rentan.
Struktur tulang dan otot anak yang masih dalam masa pertumbuhan dinilai tidak kuat menerima tekanan keras, apalagi dengan alat seperti kayu pijat. Risiko cedera seperti memar, gangguan otot, hingga patah tulang pun menjadi kekhawatiran utama.
Selain itu, pengalaman menyakitkan yang dialami anak dikhawatirkan dapat menimbulkan trauma jangka panjang, terutama terhadap sentuhan fisik maupun prosedur medis di kemudian hari.
