Menurutnya, pes diduga masih berada dalam fase tersebut. Hal ini diperkuat oleh temuan bahwa bakteri penyebab penyakit, serta vektor dan reservoirnya seperti pinjal dan tikus, masih eksis di beberapa wilayah enzootik di Indonesia.
Ristiyanto menambahkan, perubahan lingkungan menjadi faktor utama yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit tersebut. Deforestasi, alih fungsi lahan, hingga pertumbuhan penduduk dinilai telah mengganggu keseimbangan ekosistem.
“Kondisi ini mendorong habitat tikus semakin dekat dengan permukiman manusia, sehingga meningkatkan peluang penularan melalui gigitan pinjal,” jelasnya.
Senada dengan itu, peneliti BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menuturkan bahwa perubahan iklim juga berkontribusi terhadap meningkatnya populasi pinjal sebagai vektor penyakit.
“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia, menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” kata Choirul.
Ia menegaskan, tikus sebagai reservoir utama bakteri penyebab pes masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, sehingga potensi penularan kepada manusia tetap ada.
