Bhayangkara terus membombardir pertahanan lawan hingga menyentuh angka krusial 8-0. Dawuda sempat memperkecil ketertinggalan menjadi 2-8, namun Agil Angga dkk tampil tanpa cela. Dominasi terus berlanjut hingga kedudukan 16-6 di pertengahan set, sebelum akhirnya smes-smes keras mengakhiri set kedua dengan margin lebar, 25-14.
Meski sudah unggul 2-0, Reidel Toiran tidak mengendurkan intensitas, walaupun ia mulai melakukan rotasi dengan memasukkan pemain pelapis seperti Hernanda Zulfi. Strategi ini terbukti efektif; ketajaman serangan Bhayangkara Presisi tidak berkurang sedikit pun.
Pertandingan sempat berjalan alot di awal set ketiga dengan skor kembar 5-5 hingga 10-10. Namun, setelah melewati poin-poin tersebut, Bhayangkara kembali menjauh 17-13. Kombinasi serangan dari Gumilar, Agil Angga, dan Martin Atanasov berkali-kali menembus blokir Garuda Jaya. Set ketiga pun resmi menjadi milik Bhayangkara Presisi dengan skor 25-17.
Usai laga pelatih Garuda Jaya, Nur Widayanto menyampaikan taktik para pemainnya tidak berjalan seperti yang direncanakan, “Termasuk receive kami tidak berjalan baik, karena servis dari lawan benar-benar merusak permainan anak-anak,” kata Nur Widayanto.
