Saat ini komunitas tersebut telah berbadan hukum koperasi dan memiliki sembilan karyawan, di mana mayoritas adalah perempuan lansia berusia 50-60 tahun dan orang tua tunggal. Peni memberikan ruang bagi mereka untuk tetap produktif dari rumah.
“Perempuan sebaiknya memiliki kegiatan produktif untuk membantu ekonomi keluarga agar menjadi sosok yang kuat dan tangguh,” tegas Peni.
Keunggulan utama Diopeni terletak pada penggunaan kain tenun motif lurik dengan desain kontemporer yang eksklusif. Koleksi fashion yang dihasilkan sangat beragam, mulai dari daster tunik sebagai produk unggulan, kemeja, outer kimono, gamis, babydoll, blazer, hingga baju koko. Setiap helai pakaian dibuat dengan peletakan corak yang berbeda sehingga hampir tidak ada produk yang sama persis.
Peni juga menerapkan prinsip zero waste dan green industry. Sisa kain perca disulap menjadi aneka produk kriya seperti sandal tenun, tas, pouch, bantal, hingga gantungan kunci. Bahkan, Diopeni kini berkembang ke unit bisnis yang lebih luas, termasuk jasa pelatihan keterampilan hantaran dan anyaman.
