“Materi yang diberikan mencakup integrasi antara keamanan siber dan keamanan fisik, metodologi inspeksi, identifikasi kerentanan, serta strategi mitigasi risiko terhadap ancaman siber,” ujar Irvan dalam wawancara yang dilakukan pada Kamis, 17 April 2026 di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie Serpong.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan pendekatan praktis. “Pelatihan berlangsung secara intensif melalui kombinasi sesi teori, diskusi interaktif, studi kasus, serta table-top exercise. Hal ini sangat membantu peserta dalam memahami penerapan langsung di lapangan,” jelasnya.
Menurut Irvan, transformasi digital dalam sistem proteksi fasilitas nuklir menjadi latar belakang penting penyelenggaraan pelatihan ini. Ketergantungan terhadap sistem komputer dan jaringan dalam operasional fasilitas nuklir menuntut adanya penguatan aspek keamanan siber yang terintegrasi.
“Pelatihan ini sangat relevan dengan perkembangan sistem proteksi fisik yang semakin terdigitalisasi. Saya memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terkait metodologi inspeksi keamanan komputer, yang sangat penting dalam mendukung penguatan sistem keamanan fasilitas nuklir di Indonesia,” ungkapnya.
